//
you're reading...
Uncategorized

SEJARAH GUNUNG GALUNGGUNG


Gunung Galunggung dengan ketinggian 2.168 meter di atas permukaan laut merupakan salah satu gunung berapi tipe strato di Pulau Jawa yang masih aktif. Di dalam pembagian fisiografi Jawa Barat, termasuk di dalam zona gunung api kwarter yang terbentuk di bagian tengah daerah Jawa Barat. Menurut Volcanological Survey of Indonesia (VSI), kawasan Gunung Galunggung meliputi areal seluas ± 275 km2 dengan diameter sekitar 27 km (barat laut-tenggara) dan 13 km (timur laut-barat daya). Sebelah barat Gunung Galunggung berbatasan dengan Gunung Karasak, sebelah utara dengan Gunung Talagabodas, sebelah timur dengan Gunung Sawal dan di sebelah selatan berbatasan dengan batuan tersier Pegunungan Selatan. Gunung Galunggung dibagi dalam tiga satuan morfologi, yaitu: Kerucut Gunung Api, Kaldera, dan Perbukitan Sepuluh Ribu. Karakter letusan Gunung Galunggungumumnya berupa erupsi leleran lava sampai dengan letusan yang sangat dahsyat yang berlangsung secara singkat atau lama.

Sumber: Franz Wilhelm Junghuhn, Java; Deszelfs Gedaante, Bekleeding en Inwendige Structuur, Amsterdam: P.N. van Kampen, 1853
Galunggung, Salah Satu Pusat Spiritual Sunda
Catatan sejarah wilayah Galunggung dimulai pada abad ke XII. Di kawasan ini terdapat suatu Rajyamandala (kerajaan bawahan)Galunggung yang berpusat di Rumantak, yang sekarang masuk dalam wilayah Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya. Galunggung merupakan salah satu pusat spiritual kerajaan Sunda pra Pajajaran, dengan tokoh pimpinannya Batari Hyang pada abad ke-XII. Saat pengaruh Islam menguat, pusat tersebut pindah ke daerah Pamijahan dengan Syeikh Abdul Muhyi (abad ke XVII) sebagai tokoh ulama panutan. Sumber prasastiGeger Hanjuang yang ditemukan di sana menyebutkan bahwa pada tahun 1033 Saka atau 1111 Masehi, Batari Hyang membuat susuk/ parit pertahanan. Peristiwa nyusuk atau pembuatan parit ini berarti menandai adanya penobatan kekuasaan baru di sana (di wilayah Galunggung). Sementara naskah Sunda kuno lain adalah Amanat Galunggung yang merupakan kumpulan naskah yang ditemukan di kabuyutan Ciburuy, Garut Selatan berisi petuah–petuah yang disampaikan oleh Rakyan Darmasiksa, penguasaGalunggung pada masa itu kepada anaknya.
Sementara Prabu Jaya Pakuan alias Bujangga Manik, seorang resi Hindu dari Kerajaan Sunda, Pakuan Pajajaran yang telah melakukan dua kali perjalanan dari Pakuan Pajajaran ke Jawa sempat menuliskan Galunggung dalam catatan perjalanannya. Namun demikian tak banyak informasi mengenai Galunggung yang didapat dari naskah ini.
Sadatang ka Saung Galah, sadiri aing ti inya, Saung Galah kaleu(m)pangan, kapungkur Gunung Galunggung, katukang na Panggarangan,ngalalar na Pada Beunghar, katukang na Pamipiran.
(Sesampai di Saung Galah berangkatlah aku dari sana ditelusuri Saung Galah, Gunung Galunggung di belakang saya, melewati Panggarangan, melalui Pada Beunghar, Pamipiran ada di belakangku.)
Latusan Dahsyat Galunggung
Menurut catatan sejarah Gunung Galunggung telah meletus sebanyak empat kali, yaitu pada tahun 1822, 1894, 1918 dan dalam kurun waktu tahun 1982-1983. Johannes Olivier Jz dalam bukunya menyebutkankan bahwa sebelum tahun 1822, tidak ditemukan data tertulis ataupun sumber lisan tentang letusan Gunung Galunggung di masa lampau, baik yang berasal dari sumber asing maupun sumber lokal masyarakat setempat. Naskah-naskah Sunda kuno pun tidak ada yang secara explisit menceritakan mengenai letusan Galunggung di masa silam.
Letusan pertama Gunung Galunggung terjadi pada tanggal 8 Oktober 1822 antara jam 13.00 hingga 16.00 WIB, dan disertai beberapa aktivitas vulkanik dan letusan yang tercatat berlangsung hingga tanggal 12 Oktober 1822. Menurut buku Johannes Olivier Jz, “Tafereelen en merkwaardigheden uit Oost-Indie” terbit tahun 1836, sebelum letusan terjadi, sekitar bulan Juli 1822, warga yang berada di sekitar aliran sungai Cikunir, yang berhulu pada GunungGalunggung, merasakan keanehan yang terjadi pada air sungai. Air Sungai berubah menjadi keruh, tercium bau belerang dan air terasa sedikit pahit. Selain itu warga yang menyeberangi sungai menemukan bekas buih putih pada kaki mereka. Tak lama kemudian kepala Distrik Singaparna segera melakukan penyelidikan. Utusan kepala distrik memeriksa dan mengikuti aliran sungai menuju hulu pada kolam air terjun Bamboelan, di sana mereka menemukan air di kolam tersebut sangat keruh dan hangat. Beberapa waktu kemudian air sungai menjadi kembali jernih namun bau belerang masih tetap ada. Berselang tiga bulan kemudian pada 8 oktober 1822 tanpa ada tanda-tanda di langit, meletuslah sang Galunggung dengan dahsyatnya. Bumi bergetar. Langit bergemuruh. Tanpa peringatan apa-apa Galunggunglangsung memuntahkan abu, pasir dan material vulkanik lainnya membumbung tinggi ke angkasa.
Letusan Galunggung pada tahun 1822 ini tercatat sebagai salah satu letusan gunung api yang paling mematikan di dunia karena memakan banyak korban jiwa. Olivier menjabarkan, Di Distrikt Radjapolla (Rajapolah) terdapat 9 kampung yang musnah akibat lumpur panas namun hanya 9 orang tewas, sementara Distrikt Indihiang merupakan kawasan terparah, sekitar 45 kampung tertimbun lumpur, 1100 orang tewas. Di Tassik-malayoe(Tasikmalaya) 14 kampung musnah, 900 orang tewas, sementara di distrikt Singaparna 35 kampung musnah dan 1500 orang menjadi korban. Sementara dalam buku Franz Wilhelm Junghuhn (“Java; Deszelfs Gedaante, Bekleeding en Inwendige Structuur”, Amsterdam, 1853, hlm 143) menyebutkan setelah penelitian resmi yang dilakukan pemerintah (Hindia Belanda) tahun ditetapkan jumlah korban sebanyak 4011 jiwa dan 114 desa musnah. Resident der Pranger Regentschap pada masa itu, Baron R. Van Der Capellen, segera turun tangan setelah mendengar kabar meletusnya Galunggung. Bersama seorang dokter yang bernama Bruininga menolong para pengungsi dan korban letusanGalunggung. Karena besarnya letusan maka Olivier menyebutnya sebagai “Letusan gunung terbesar yang akan terus ada dalam ingatan orang-orang di Pulau Jawa”
Catatan terakhir letusan Gunung Galunggung terjadi pada tanggal 5 April 1982. Letusan disertai dengan suara dentuman dan gemuruh, pijaran api, dan kilatan petir halilintar. Kegiatan letusan terakhir ini berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983. Letusan terakhirnya bertipe vulcanian vertical(seperti letusan cendawan bom atom), yang semburannya mencapai 20 kilometer ke angkasa. Letusan tersebut juga diikuti dengan semburan piroclastic (debu halus) yang menghujani Tasikmalaya, Garut, Cianjur, Bandung, dan kota-kota lain yang berada dalam radius sekitar 100 kilometer dari Gunung Galunggung, termasuk juga hingga ke Jakarta.
Letusan Galunggung yang hebat, sanggup melontarkan debu vulkaniknya hingga membumbung tinggi ke angkasa. Pada 24 Juni 1982 sekitar pukul 20:40, sebuah pesawat boeing 747-236B dengan kode penerbangan G-BDXH milik maskapai penerbanganBritish Airways Flight 9 dengan 263 penumpang mengalami kerusakan pada ke-empat mesinnya saat melintas di atas samudera hindia sekitar sebelah selatan Pulau Jawa. Pesawat berangkat dari Bandara Heatrow London menuju Auckland Selandia Baru, dengan rute transit Bombay, Madras, Kuala Lumpur, Perth, Melbourne dan Auckland.
Pesawat bertolak dari bandara Sultan Abdul Aziz Shah, Kuala Lumpur, menuju Perth Australia, terbang melintasi Samudera Hindia dengan ketinggian sekitar 37000 kaki (sekitar 11 km) tanpa disadari pesawat terbang masuk ke dalam awan debu vulkanik yang dilontarkan oleh letusan Gunung Galunggung. Debu vulkanik tersebut menyebabkan keempat mesin pesawat mati hingga akhirnya pesawat mengalihkan rutenya menuju Jakarta, namun dapat mendarat darurat dengan aman.
Kedahsyatan letusan Galunggung di masa lalu telah banyak memakan korban harta dan jiwa. Namun demikian selang beberapa waktu setelah letusan, Galunggung memberikan kehidupan kembali bagi tumbuhan dan orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Letusan Galunggung memuntahkan jutaan meter kubik lumpur dan pasir vulkanik ke kawasan Tasikmalaya dan sekitarnya, menjadikan kawasan ini subur. Muntahan lahar dingin mengalir mengikuti alur sungai. Aliran sungai dan saluran irigasi yang tertutup lumpur. Sehingga dibangun sebuah check dam(kantong lahar dingin) di daerah Sinagar sebagai tanggul pengaman limpahan banjir lahar dingin ke kawasan Kota Tasikmalaya. Tumpahan material lahar dingin berupa pasir vulkanik dimanfaatkan menjadi tambang pasir selain untuk meminimalkan bahaya banjir lahar dingin. Pasir Galunggungmemiliki kualitas yang baik untuk digunakan sebagai bahan material bangunan maupun konstruksi jalan raya. Seiring dengan perkembangan usaha tambang pasir Galunggung, dahulu sempat dibangun jalur khusus jaringan rel Kereta Api menuju ke Stasiun Pirusa sukaratu check dam sinagar sebagai untuk mengangkut pasir dari Gunung Galungung ke Jakarta. Jalur ini ditutup pada tahun 1995.
Menuju Gunung Galunggung
Cerita-cerita kedahsyatan letusan Gunung Galunggung mengundang rasa penasaran orang untuk berkunjung ke sana. Saat ini Galunggung tengah tertidur sehingga aman untuk dikunjungi (sumber: Volcanological Survey of Indonesia, ESDM).
Gunung Galunggung relatif mudah dicapai dari Jakarta. Secara geografis, Gunung Galunggung berada di Desa Linggajati, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Sekitar17 kilometer dari pusat Kota Tasikmalaya.
Untuk menuju ke sana terdapat dua alternatif kota sebagai awal perjalanan menuju ke sana yaitu melalui kota Tasikmalaya atau Singaparna yang nantinya juga akan bertemu di jalan utama menuju Galunggung yang merupakan jalur lalu lintas truk-truk pengangkut pasir.
Sejak dibukanya jalan tol Cipularang, perjalanan dari Jakarta ke Tasikmalaya dapat dicapai dalam waktu sekitar 5 jam saja, dahulu perjalanan dari Jakarta menuju Tasikmalaya via Puncak memakan waktu sekitar 7 hingga 8 jam. Transportasi umum dari Jakarta menuju Tasikmalaya tersedia setiap saat. Namun disarankan untuk berangkat pagi-pagi, sehingga dapat tiba di Tasikmalaya menjelang siang hari dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Galunggung.

Klik pada gambar untuk memperbesar (sumber: Google)
Pengunjung yang menggunakan kendaraan pribadi dapat langsung menuju hingga ke areal parkir kawasan Gunung Galunggung, terdapat tiga alternatif:
Dari arah Jakarta atau Bandung setelah melewati Ciawi, Cisayong, sebelum masuk kota Tasikmalaya, di kecamatan Indihiang sebelum terminal bis Indihiang, ada jalan di sebelah kanan menuju Cipanas-Galunggung jaraknya sekitar + 12 km. Dari pusat kota Tasikmalaya langsung ke arah Barat lewat Jl. Bantar-Tawangbanteng, jaraknya sekitar + 17 km sementara jika dari arah Bandung lewat Garut-Singaparna setelah simpang tiga dekat jembatan Cikunir belok ke arah kiri + 14 km. Pengunjung dengan kendaraan besar, bis sedang atau besar disarankan untuk mengambil rute Bantar-Tawangbanteng yang sering dilalui truk-truk pengangkut pasir, karena bila melalui Indihiang terdapat jembatan kecil dan sempit yang hanya dapat dilalui satu kendaraan.
Bagi pengunjung dengan kendaraan umum dari arah Jakarta dan Bandung sebaiknya turun di Terminal Bus Tasikmalaya, karena tidak banyak angkutan umum yang lewat di jalur tersebut di atas. Kemudian, perjalanan dilanjutkan naik angkutan kota jurusan Terminal-Galunggung-Singaparna dengan ongkos sekitar Rp. 9.000 per orang. Turun di pintu masuk kawasan Cipanas Galunggung. Kemudian jalan kaki atau naik ojek hingga pelataran parkir di kaki anak tangga menuju kawah.
Alternatif lainnya dapat turun di perempatan Indihiang-Ciponyo (bilang saja ke kondektur mau ke Galunggung), lalu melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek dengan tarif Rp. 20.000 hingga pintu gerbang objek wisata Galunggung dan ditambah lagi Rp. 15.000 untuk sampai anak tangga menuju kawah.
Wisata Gunung Galunggung dan sekitarnya
Di kawasan Gunung Galunggung terdapat dua tempat objek wisata , yaitu Danau Kawah dan Pemandian air panas Cipanas. Dari pintu gerbang utama, pengunjung yang ingin ke danau kawah mengambil jalan ke arah kiri. Sedangkan pengunjung yang akan ke Pemandian Cipanas mengambil jalan ke arah kanan.

Tangga menuju Kawah Galunggung©2009 arie saksono
Untuk menikmati pemandangan kawah Gunung Galunggung pengunjung harus mendaki menapaki anak tangga yang berjumlah 620 anak tangga.Dari sana pengunjung dapat mencapai dasar kawah dengan menuruni jalan setapak sekitar 100 meter. Di dasar kawahnya, pengunjung dapat menikmati hamparan luas danau beserta alamnya yang eksotik, memancing aneka jenis ikan air tawar Danau Kawah. Namun demikian Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) atau Volcanological Survey of Indonesia (VSI) tidak merekomendasikan pengunjung untuk mandi, berenang ataupun bersampan di danau kawah. Selain itu juga terdapat sungai dari resapan Danau Kawah, gua, terowongan air menuju Sungai Cibanjaran dan Cikunir, serta masjid kecil yang terletak di sisi seberang kawah. Pada malam hari dari bibir kawahnya, saat cuaca cerah pengunjung dapat melihat keindahan gemerlap lampu-lampu Kota Tasikmalaya dan sekitarnya.

Klik pada gambar untuk memperbesar (sumber: Google)
Bila anda lelah sehabis menaiki tangga Galunggung, sekitar 3 kilometer dari kawah, menuju ke bawah, tidak begitu jauh dari pintu gerbang terdapat lokasi pemandian air panas Cipanas dan dapat dicapai dengan berjalan kaki. Di kawasan ini terdapat kolam renang, kamar mandi, dan bak rendam air panas. Selain itu, bila masih ada waktu, pengunjung juga dapat berjalan kaki menuju air terjun yang terletak tak jauh dari situ.
Selain Danau Kawah dan Pemandian Cipanas, di kawasan tersebut juga terdapat wanawisata (wisata hutan) yang memiliki areal sekitar 120 hektar yang dikelola pihak Perhutani. Kawasan ini berhawa sejuk, udaranya segar, dan teduh, sehingga cocok sekali dijadikan tempat untuk bersantai bersama keluarga atau berkemah.
Selain objek wisata Danau Kawah Galunggung dan pemandian air panas, bila masih ada waktu, maka tidak ada salahnya daam perjalanan pulang, singgah ke objek wisata Situ Gede atau Situ Ageng sebutan masyarakat setempat. Situ Gede adalah sebuah danau dengan luas sekitar 47 hektare. Danau ini terletak sekitar 5 kilometer dari Kota Tasikmalaya. Ditengah-tengah danau terdapat sebuah pulau seluas kurang lebih 1 hektar. Di pulau tersebut terdapat makam keramat Eyang Prabudilaya seorang tokoh legenda masyarakat Tasikmalaya. Di Situ Gede masyarakat dapat menikmati danau yang indah dan tenang dengan latar belakang Gunung Galunggung di kejauhan. Selain itu pengunjung dapat bersantai mengelilingi danau dengan rakit yang banyak disewakan disana.

About nugrahagilang

MARILAH MAJUKAN DUNIA PENGETAHUAN DENGAN PERCAYA DIRI

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: